 |
|
| Konservasi PerAiran |
|
| |

| |
|
 |
|
 |
|
| News / Berita Pendidikan Baru |
|
| |
| Pengumuman Multimedia Terbukti Tingkatkan Nilai Siswa | | By admin |
| Wednesday, July 09, 2008 08:17:00 |
Clicks: 2502 |
 |
 |
|
|
Rabu, 09 Juli 2008 8:17:00
Pengumuman Multimedia Terbukti Tingkatkan Nilai Siswa
Jakarta--RoL-- Penggunaan multimedia sebagai alat pembelajaran interaktif dibuktikan pemenang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-7 Sugeng Priyanto dari Universitas Brawijaya, Malang, dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Setelah pengujian statistik dan dilakukan perbandingan rerata hasil belajar, kelompok yang menggunakan aplikasi multimedia setelah perkuliahan mendapat rerata skor 7,37 sedangkan yang tidak mendapat 6,94, kata Sugeng dari Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Unbraw.
Hasil penelitian Sugeng itu memperoleh penghargaan berupa uang Rp12 juta dan polis asuransi dari hasil penelitiannya yang dinilai juri sebagai yang terbaik di Jakarta, Selasa.
Ia menjadi pemenang pertama bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) PPRI yang diselenggarakan LIPI dengan judul penelitian Aplikasi Multimedia sebagai Media Pembelajaran Interaktif pada Mata Kuliah 'Foundation of Nursing IV' Menggunakan 'Model Expository Teaching' terhadap Hasil Belajar Mahasiswa.
Jadi dengan menggunakan multimedia dalam pengajaran, urainya, akan mampu mengkondisikan suasana belajar yang bisa memaksimalkan proses penerimaan suatu informasi dengan lebih baik. Pada kelompok multimedia dibuatkan tampilan presentasi interaktif tentang 'Wound Care' berupa tampilan teks dan animasi tiga dimensi (3D) manusia secara singkat yang dilanjutkan dengan penjelasan anatomi kulit, stadium luka serta video tentang tindakan keperawatan luka di RS, kata kelahiran Jember 21 April 1986 itu.
Sugeng menggunakan sampel seluruh mahasiswa semester IV tahun ajaran 2007/2008 yang mengikuti perkuliahan Foundation of Nursing IV di Jurusan Keperawatan Unbraw yang kemudian ia kelompokkan menjadi dua yakni kelompok yang menggunakan aplikasi multimedia dan yang tidak.
Sementara itu model belajar Expository Teaching, menurut dia, adalah model pembelajaran yang baik di mana dalam model ini dikenal tiga tahap, pertama mengarahkan pelajar pada materi yang akan dipelajari dan membantu mengingat kembali informasi yang terkait.
Tahap kedua, materi baru itu disampaikan dengan memberi ceramah, diskusi film, atau memberi tugas kepada pelajar dan tahap ketiga dengan menggabungkan informasi baru ke dalam susunan pelajaran yang sudah direncanakan dan memberi kesempatan pelajar melontarkan pertanyaan untuk memperluas pengetahuan terkait. Antara/yto
Sumber: Republika Online
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=340646&kat_id=23
Saran Webmaster: Kami Salut Sugeng Priyanto dari Universitas Brawijaya, Malang.
Sangat bagus bahwa Sugeng Priyanto mengadakan penelitian (yang sangat kurang di negara kita), maupun menggunakan 'Control Group'.
Kalau Multimeia atau E-Learning memang lebih cocok di mana tujuan kita bukan untuk membangunkan kreativitas seperti di Ilmu Keperawatan (tentara, pilot, dll). Tujuannya adalah menyampaikan informasi dan membentuk perilaku supaya seragam. Tetapi di sekolah umum kita ingin membangunkan orang secara individu yang kreatif dan inovatif, dan E-Learning dapat membunuh kreativitas.
http://teknologipendidikan.com/kreativitas.html
'Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100% tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya.'
http://e-pendidikan.com/dikotomi.html
Berarti bahan yang dipakai kemarin dan proses pengajaran di program itu adalah lebih baik daripada mutu pengajaran dari dosen.
Yang kami kurang paham, mengapa sebut 'Multimedia sebagai Media Pembelajaran Interaktif'? Apakah pengajaran biasanya di kampus mereka tidak interaktif?
Mungkin penelitian ini sebetulnya lebih membuktikan masalah dengan cara mengajar yang biasa. Semua metoda pengajaran harus interaktif (biar di kelas biasa).
Yang betul sudah terbukti juga adalah kalau kemampuan, metoda pengajaran dan dedikasi dosen ditingkatkan hasilnya mahasiswa / mahasiswi juga akan naik.
Dosen Bergelar S2 dan S3 Baru 50 Persen
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=523
Yang mana yang lebih praktis, terjangkau dan lebih sesuai dengan keadaan di Indonesia, melengkapi setiap kelas sekolah dan kampus dengan banyak komputer atau meningkatkan mutu guru dan dosen? Bahannya???
Memang penelitian begini adalah sangat bermanfaat karena dapat menunjukkan kekurangan dengan kebiasaan mengajar di Indonesia (misalnya kurang interaktif).
http://pendidikan.net/jurnalpendidikan.html#telewicara
Salam Pendidikan
|
| |
|
| More Berita Pendidikan Baru Berita |
. India Buat Produsen Laptop Ketar Ketir . India Luncurkan Laptop Seharga Rp335.000 . Pilih Android Demi Untung . Pemborong SD Sejahtera Tolak Dakwaan JPU . Atap TK Rihul Islam Jakarta Roboh . RSBI Hilangkan Nasionalisme Siswa . RSBI Kesulitan Cari Guru Berkualitas . ICW: Pihak Sekolah Langgar UU Korupsi! . Magang Kerja Siswa SMK Dinilai Berisiko . Ah, RSBI Salah Kaprah!
|
|
|
 |
|
| Pendidikan Kelas Dunia |
|
| |  | |
|
| Berita Penerbangan |
|
| |

| |
|
| Kegiatan & Aktivitas |
|
| |

| |
|
 |
|  |